Thursday, January 27, 2011

Pelajar? Ayo baca ini… (part 1)

Bismillahirrahmanirrahim…

Menuntut ilmu, ternyata ada etikanya. Tidak asal sekadar kita mendapatkan ilmu saja. Tidak asal berusaha mendapat nilai baik saja. Karena ternyata, ada etika-etika dalam menuntut ilmu yang kebanyakan orang belum mengetahui. Saya mendapatkan penjelasan tentang ini dari guru saya tercinta. Nah, apa saja etikanya?

1. Memakan Makanan Halal lagi Baik

Sebagai seorang penuntut ilmu, kita harus memakan makanan yang baik yang bermanfaat. Makanan yang halal lagi baik tentunya akan mendatangkan manfaat untuk kita. Dalam menuntut ilmu, kita perlu asupan makanan-makanan bergizi sebagai penunjang. Contohnya adalah ikan, telur, susu, dsb. Kita juga lebih baik menghindari jajanan-jajanan yang kurang baik yang kurang bergizi, seperti makanan-makanan yang mengandung MSG. Boleh sesekali, asal jangan berlebih. Hal ini dikarenakan akan menurunkan kemampuan otak kita dalam belajar. Satu hal lagi, kita jangan memakan makanan hasil curian atau didapatkan dari jalan yang haram atau tidak baik. Kita juga lebih baik untuk tidak merokok. Melihat bahaya yang ditimbulkannya, sebagai pelajar, mari kita jauhi tindakan itu.

2. Mengurangi Makan dan Minum

Sebagai penuntut ilmu, janganlah kita makan dan minum berlebihan karena akan mengakibatkan tumpulnya akal, banyak tidur, sifat malas,dan mudah terkena penyakit. Bahkan, dianjurkan untuk tidak makan sampai kenyang. Rasa kenyang akan menyebatkan badan menjadi berat, hati menjadi kasar, ketajaman berpikir akan hilang, dam sifat malas. Saya pernah mendapat penjelasan dari seorang guru bahwa pelajar, lebih baik makan malam di atas jam 7 malam. Sebuah penelitian menyatakan bahwa pada jam 6-7, sistem pencernaan kita sedang menyerap sari-sari makanan yang kita makan dari pagi sampai sore itu. Dan jika kita makan di antara jam itu, akan memberatkan proses pencernaan sehingga, proses penyerapan sai makanan menjadi kurang maksimal. Sari makanan yang berguna untuk tubuh dan kesehatan otak menjadi kurang maksimal diserap. Seorang pelajar akan sangat membutuhkan sari makanan itu. Dan, sangat baik untuk belajar atau mengulang pelajaran pada jam-jam itu.


3. Tidak banyak Bicara dan Tidur

Seorang penuntut ilmu harus berbicara sekadarnya hanya untuk hal-hal yang penting-penting saja. Kita juga harus mengurangi tidur sebisanya. Tidur yang berlebihan adalah hal yang tidak selayaknya dilakukan oleh seorang penuntut ilmu, karena akan menyebabkan waktu menjadi sia-sia. Banyak bicara, akan menyebabkan pikiran tidak tertata, sombong, dan berpeluang besar untuk cenderung berbuat kesalahan atau dosa. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Sebagai penuntut ilmu, kita dianjurkan untuk lebih banyak mendengar dan diam. Karena dengan mendengar, kita lebih bisa mendapat manfaat.


Ini baru sedikit yang saya dapat. Insya Allah akan saya tambahkan…

Saya juga masih belajar. Jadi mohon maaf bila ada kesalahan ya..

Saturday, November 27, 2010

Telinga Kanan?

Ada apa dengan telinga kanan? Tahukah Anda bila telinga kanan lebih mudah menerima perintah atau instruksi dibanding dengan telinga kiri? Mungkin sebagian sudah mengetahuinya.

Dr Luca Tommasi dan Daniele Marzoli dari University of Chieti, Italia, menemukan cara baru yang sangat sederhana agar seseorang mau mendengarkan nasihat kita. Yaitu dengan mengatakan perintah atau nasehat kita melalui telinga kanan lawan bicara. Para peneliti Italia menemukan bahwa orang lebih bagus memproses informasi jika permintaan diajukan lewat telinga kanan dalam tiga kali uji coba terpisah. Mereka meyakini hal itu disebabkan karena sisi kiri otak, yang memang lebih baik dalam memproses permintaan, menerima informasi dari telinga kanan. Penemuan ini dilaporkan dalam jurnal online Naturwissenschaffen.

Dalam penelitian pertama, 286 pengunjung klub dansa diamati saat berbincang sementara musik keras dimainkan. Secara keseluruhan, 72 persen interaksi terjadi di sisi kanan pendengaran.

Dalam penelitian kedua, peneliti mendekati 160 pengunjung klub musik, membisikkan kata-kata yang tak bermakna, dan menunggu sampel menolehkan kepala untuk menawarkan telinga kiri atau kanan. Mereka kemudian meminta sebatang rokok. Secara keseluruhan 58 persen menawarkan telinga kanan kepada peneliti dan 42 persen menawarkan telinga kiri.

Dalam penelitian ketiga, para peneliti dengan sengaja berbicara kepada 176 pengunjung klub musik lewat telinga kanan atau telinga kiri saat meminta rokok. Para peneliti yang berbicara ke telinga kanan mendapat lebih banyak rokok dari sebaliknya.

Para peneliti berkesimpulan: “Berbicara ke kuping kanan berarti Anda mengirim kata-kata ke bagian otak yang agak lebih sensitif.” Kesimpulan ini tampaknya sejalan dengan hipotesa mengenai spesialisasi bagian otak kanan dan kiri.

Jika proses informasi lebih baik dari telinga kanan, lalu untuk apa telinga kiri? Ternyata telinga kiri memiliki fungsi efektifnya sendiri.

Hasil penelitian oleh para ahli ilmu jiwa di Sam Houston State University, Texas bahwa seseorang akan cenderung lebih mengingat kata – kata emosional seperti cinta, jika mereka mendengarnya melalui telinga kiri.

Penemuan ini didukung fakta bahwa telinga kiri dikontrol oleh otak sebelah kanan yang bertanggung jawab untuk proses hal – hal emosional. Penelitian ini melibatkan 26 orang yang mendengarkan kata – kata berbeda melalui ke dua telinga dalam waktu yang sama. Kata – kata disusun dari kata – kata emosional seperti depresi sampai kata – kata non emosional seperti menggabung. Setelah latihan, para partisipan ditanya sejumlah kata-kata yang mereka telah dengar. Para peneliti menemukan bahwa partisipan memiliki ingatan yang lebih kuat terhadap kata – kata emosional yang mereka telah dengar melalui telinga sebelah kiri.

Lalu, bagaimana dengan kata ''maaf ''? Bagaimana agar permintaan maaf kita mudah diterima? Mungkin sering kali kita sudah berusaha meminta maaf kepada orang yang kita sakiti, tapi hanya menjawab,"Maaf, maaf. Gampang banget minta maaf gitu aja!" Lalu, bagaimana solusinya? Maka dari itu, dianjurkan untuk meminta maaf dengan membisikkannya ke telinga kanan orang yang kita sakiti itu. Telinga kanan akan lebih mudah menerima instruksi itu dan orang itu pun mudah-mudahan lebih mudah memaafkan kesalahan kita. Asalkan, kita pun harus meminta maaf dengan ikhlas dan dengan rasa menyesal.